ZANE segera menuju pintu, tapi anehnya, Sabrina malah mengejarnya. Mencegahnya keluar.
Tangan keduanya bertumpukan di knop pintu.
Jantung Zane serasa mau copot.
Gila, udah berhari-hari, tetep aja rasanya nggak biasa. Terus-terusan berada di dekat Sabrina nggak baik untuk kesehatan jantungnya. Lama-lama dia bisa mati muda.
Zane menoleh.
Sabrina menggeleng dengan tatapan memohon.
Ini perempuan satu maunya apa, sih?
Zane berusaha keras menetralkan ekspresi wajahnya, menetralkan kecepatan denyut jantungnya. Bisa malu tujuh turunan kalau Sabrina tahu apa yang terjadi malam Minggu kemarin, dan bahwa sekarang hanya dengan berada dalam satu ruangan yang sama dengan perempuan itu sudah membuatnya merasa tidak nyaman.
Merasa bersalah? Not really. Just distracted. A little bit. Rasanya hanya dia tidak akan pernah bisa melihat Sabrina sama seperti dulu lagi.
Zane bangkit demi menyelamatkan kantornya dari suasana tegang dan tidak nyaman di pagi hari menggiring Iis keluar pantry. Nanti kopi gue bawain ke atas, ya, Sab, Siap, Bos, Tidak ada meeting internal pagi ini karena Iis Gusti memastikan ruangan dan segala macam tetek-bengeknya sudah disiapkan sesuai dengan konsep. Sisanya tetap berada di kantor Suara ketukan di pintu membuyarkan konsentrasi Zane dan kemunculan Sabrina di sana membuat jantungnya nyaris copot seketika itu juga. Dia sungguh tidak butuh Sabrina ketika otaknya harus berkonsentrasi maksimal. Kemudian dia berusaha mengembalikan fokusnya lagi ketika ponselnya berdering. Bang Hotman salah satu senior di kampus dan klien pertamanya yang paling setia. Bang Hotman biarpun belum tiga puluh umurnya sudah sukses mendirikan puluhan cabang restoran. Padahal baru beberapa tahun mulai berjalan. Dan kemarin saat umur perusahaan Zane baru dua hari Oke, Bang. Gue meluncur, kemudian mematikan sambungan. Segera dipakainya jaket kulitnya memeriksa dompet di saku celana Tidak ada orang di lantai tiga maupun dua. Lalu dia turun ke lobby. Semua sedang berkumpul di ruang tamu lantai satu. Kalau Timothy lagi kumat manjanya dan nggak mau ditinggal sendirian di front office anak-anak yang lain biasanya akan membawa kerjaan mereka turun dan mengerjakannya di sana. Lalu kalau klien tiba-tiba datang dan berbagai berkas yang dibawa akan ditumpuk-tumpuk begitu saja dan disembunyikan di balik sofa. Dan setelah kliennya pergi Susah emang kerja sama anak-anak otak kanan. Nggak bisa diajak rapi. Asal kerjaan beres selalu saja begitu dalihnya. Karen ikut gue ke Bang Hotman! Karen menoleh kebingungan. Eh, project baru, Bos? Biasanya kan Sabrina yang dapet Bang Hotman. Sabrina udah gue kasih project yang lain. Karen melotot ke Sabrina kemudian balik menatap Zane. Perlu banget pergi berdua? Gue sendiri nggak pa-pa, deh, Emang semua cewek suka begitu ya? Memanfaatkan elastisitas otot-otot di wajah mereka demi mendapatkan yang mereka mau. Buruan! kali ini sambil mulai melangkah pergi. Dan Karen pun segera mengemasi barang-barangnya meninggalkan teman-temannya dengan terpaksa. Kenapa dia bisa segitu ogahnya dapet project Bang Hotman? Karena orangnya nggak asyik. Mending dong ditemenin Zane, daripada ngobrol berdua. memaklumi. Akmal memang belum pernah berurusan dengan Bang Hotman. Dan cowok-cowok memang punya perspektif tersendiri tentang apa yang bisa disebut asyik dan nggak asyik. Lebih parah lagi kalau sama Zane mah. Zane sama Bang Hotman itu nyambung. Otomatis jadi lama meetingnya. Kalau sendirian kan bisa to the point. Ooh. kayak ngerendahin banget. Dikiranya kita nggak bisa makan kalau nggak dikasih kerjaan sama dia? Zane masih aja merendah Timothy dan Sabrina cuma terkikik bertepatan dengan Ucup yang datang membawa pesanan kopi mereka. Punya Karen buat elo aja, Cup, jemawa.